Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat Tokoh Nasional seorang Pelopor Pendidikan yang juga Menteri Pendidikan pertama di Indonesia dengan Semboyan Tut Wuri Handayani merupakan Bapak Pendidikan Nasional sebagai panutan dalam dunia pendidikan di Indonesia, untuk itulah Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Jakarta (UID), Muammar Qadafi mencoba melakukan penelitian serta kajian-kajian akademik tentang Pemikiran Ki Hajar Dewantara khususnya menggali sejauh mana pendekatan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani, yang kemudian diintegrasikan dalam praktik pembelajaran serta bagaimana strategi penerapannya untuk disinergikan dengan struktur dan isi kurikulum Pendidikan Agama Islam yang berlaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian terapan (applied research) dan metode studi kasus (case study).
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum, dengan menyoroti penerapan prinsip-prinsip sistem Among yang berasal dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, Fokus utama penelitian untuk Data, dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapangan, dan telaah dokumen di SMK Yanindo Jakarta. Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai praktik nyata pembelajaran PAI serta merumuskan rekomendasi berbasis data terhadap pengembangan kurikulum yang sesuai dengan konteks sekolah umum.
Hasil temuan menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah telah menunjukkan upaya untuk menyesuaikan dengan pendekatan yang lebih dialogis dan memfasilitasi peran aktif siswa. Para guru berusaha memosisikan diri sebagai pembimbing dan pemotivasi, sejalan dengan prinsip-prinsip sistem Among.
Dalam ranah akademik, penelitian ini memberi kontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan Islam kontekstual dengan memperlihatkan pentingnya nilai-nilai lokal dalam desain kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran. Pendekatan yang dikembangkan melalui sistem Among terbukti memiliki potensi untuk menjembatani antara teori kurikulum dan praktik pembelajaran di sekolah, khususnya dalam konteks pendidikan agama di jenjang menengah.
Dan dari hasil penelitian tersebut kini sudah disusun untuk meraih Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Jakarta, yang diajukan dalam Sidang Terbuka di Aula Bab Al Rasyidi Kampus Universitas Islam Jakarta (UID) pada Rabu 31 Desember 2025. Dan Dr Muammar Qadafi mengaku bersyukur akhirnya dirinya mampu menyelesaikan ujian Doktor hari ini dengan meraih predikat Sangat Baik, dan dirinya berharap pendidikan Agama Islam di Indonesia kedepan bisa lebih baik lagi, tidak hanya bersifat teoritik namun bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, karena sebenarnya Kurikulum PAI saat ini sudah bagus namun dirinya melihat penerapannya kurang maksimal, semoga dengan karya penelitian tersebut, bisa membantu pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia, tegas Dr Muammar Qadafi.
Prof. Dr. Dede Rosyada, MA Ketua Prodi Doktor Universitas Islam Jakarta mengapresiasi Dr Muammar Qadafi yang telah berkontribusi dalam upaya perbaikan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah, dimana ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani dengan pendekatan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani itu bisa dimasukkan dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah, sehingga produktivitas belajar mengajar akan lebih baik, dan para Guru bisa memberikan contoh, guru bisa mendorong kepada peserta didik untuk lebih baik, ungkapnya.
Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si juga mengaku beryukur hari ini UID menyelesaikan dua promosi Program Doktor, yang kedua ini yaitu Dr Muammar Qadafi menjadi lulusan yang ke-76 program S3 Pendidikan Agama Islam, sebagaimana desertasinya tadi, Promovendus melihat pemikiran Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh nasional di Republik ini, dan tentunya dengan analisis – analisis yang secara metodologi ilmiah berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh saudara Dr Muammar Qadafi ini memberikan value yang baik bagi perubahan-perubahan dalam hal memberikan pembelajaran di kurikulum Pendidikan Agama Islam, jadi kalau kita lihat persepsi moral dan bahwa manusia itu makluk budaya yang tentunya berpegang teguh pembekalan moral dan etika kepada anak didik, Sehingga Muammar Qadafi juga memasukkan perspektif pada manusia di dalam konteks Islam yang berkaitan dengan nilai-nilai ibadah.
Dengan kolaborasi ini diharapkan materi ajar itu bisa mengalir dan bisa dihubungkan yang pertama bagi Agama Islam atau kelompok Islam, khususnya di DKI Jakarta maupun secara keseluruhan di Indonesia, dimana seorang tokoh Ki Hajar Dewantara ini dilihatkan bahwa manusia itu makhluk budaya, yang tentunya sangat perlu dalam memberikan anak didik pembekalan moral, ungkapnya. (Red)

